Jam tujuh pagi, gue udah rapi pakai kemeja putih yang udah disetrika semalam. Tas berisi CV, portofolio, dan botol minum. Semua sesuai rencana. Sampai tiba-tiba istri gue bilang dari kamar anak, "Dia panas, 38,5."
Deg. Interview terakhir gue di kantor lama itu jam sembilan. Nggak bisa diundur, karena HRD-nya udah blok jadwal buat panel tiga orang. Dan di sinilah drama klasik orang tua di kota besar dimulai: antara karier dan anak, dua-duanya nggak bisa ditinggal.
Gue nggak mau ceramah soal "keluarga nomor satu" atau "karier tetap penting". Kamu udah tahu itu. Yang gue mau bagi adalah apa yang beneran gue lakuin hari itu, dan pelajaran yang akhirnya gue bawa ke interview-interview berikutnya.
Ketika Rencana Rapi Buyar dalam Lima Menit
Pertama, gue panik. Refleks banget. Otak langsung mikir skenario terburuk: batal interview, kehilangan kesempatan, umur makin tua, saingan makin banyak. Padahal anak baru demam satu jam.
Untung istri gue lebih tenang. Dia bilang, "Kamu tetap berangkat. Aku urus dia, nanti aku video call kalau perlu." Simpel, tapi itu yang nyelametin pagi gue. Kadang kita butuh orang lain buat narik kita dari kepanikan sendiri.
Gue sempat mikir buat cancel aja. Tapi istri gue benar. Kalau gue cancel cuma karena panik, gue bakal nyesel. Demam anak hari itu bisa ditangani, sementara jadwal panel interview nggak selalu bisa diatur ulang.
Yang Gue Lakuin Sebelum Berangkat
Gue nggak langsung ngacir. Ada beberapa hal kecil yang gue kerjain dulu supaya kepala gue nggak pecah di jalan.
- Bagi tugas dengan jelas. Istri pegang anak, gue pegang interview. Nggak ada yang dobel kerja, nggak ada yang ngerasa sendirian.
- Siapin obat dan nomor darurat. Gue taruh paracetamol anak di meja, plus nomor dokter langganan ditempel di kulkas. Sepele, tapi bikin tenang.
- Bilang terus terang ke HRD kalau ada kemungkinan gue harus angkat telepon. Ini penting. Jujur di awal jauh lebih baik daripada tiba-tiba HP bunyi di tengah sesi.
- Jalan lebih awal. Bukan buat ngejar waktu, tapi buat kasih ruang kalau ada apa-apa di jalan.
Soal ngomong ke HRD, gue sempat ragu. Takut dikira nggak fokus atau nggak profesional. Ternyata reaksinya biasa aja. "Oke, kalau ada emergency, angkat aja," kata dia. Mungkin karena dia juga orang tua.
Jangan Bawa Kepanikan ke Ruang Interview
Ini bagian tersulit. Kamu duduk di kursi, senyum, tapi otak masih muter di rumah. Anak minum obat belum? Panasnya turun belum?
Yang gue lakuin cuma satu: tarik napas panjang tiga kali sebelum masuk ruangan, lalu fokus ke satu hal—pertanyaan yang lagi diomongin pewawancara. Bukan mikirin jawaban sempurna, bukan mikirin anak, cuma dengerin.
Kedengerannya klise, tapi beneran ngebantu. Kepanikan itu kayak radio nyala di belakang kepala. Kamu nggak bisa matiin total, tapi bisa kecilin volumenya.
Interview bukan ujian hafalan. Pewawancara pengen lihat kamu bisa mikir jernih, termasuk saat keadaan nggak ideal. Dan justru di situ kamu bisa nunjukin itu.
Pelajaran yang Gue Bawa Sampai Sekarang
Interview hari itu lancar. Nggak sempurna, tapi cukup. Gue dapet panggilan kedua, dan akhirnya kerja di tempat itu selama tiga tahun.
Tapi yang lebih penting, kejadian itu ngubah cara gue lihat wawancara kerja. Selama ini kita diajarin interview itu soal jawaban cerdas, CV kinclong, dan latihan di depan kaca. Padahal sebagian besar wawancara yang gagal bukan karena jawabannya salah, tapi karena orangnya nggak hadir utuh—pikiran ke mana-mana.
Buat kamu yang punya anak kecil di kota besar, ini realita yang susah dihindari. Sekolah anak jam tujuh, kamu harus berangkat jam enam. Ada rapat mendadak, ada anak sakit, ada PR yang harus dicek. Semua kejadian barengan.
Jadi gue punya beberapa prinsip yang sekarang selalu gue pegang sebelum interview:
- Siapin rencana B buat anak. Siapa yang jaga kalau kamu harus keluar kota? Siapa yang bisa dihubungi kalau istri atau suami juga kerja? Ini bukan pesimis, ini antisipasi.
- Jangan bohong soal situasi keluarga. Kalau ditanya soal kesiapan kerja dan kamu punya anak kecil, jawab apa adanya. Perusahaan yang bagus bakal ngerti. Yang nggak ngerti, mungkin bukan tempat yang cocok buat kamu.
- Bawa "amunisi" ketenangan. Buat gue, itu foto anak di HP yang gue lihat sebentar sebelum masuk ruangan. Buat kamu bisa apa aja—lagu favorit, doa, atau sekadar jalan kaki keliling gedung.
Soal Rasa Bersalah yang Nggak Perlu
Gue pernah ngerasa bersalah banget ninggalin anak yang lagi demam buat interview. Kayak gue orang tua yang egois. Padahal istri gue udah bilang baik-baik, "Pergi. Ini penting buat kita juga."
Rasa bersalah itu wajar. Tapi kalau dibiarin, dia bakal ngerusak dua-duanya—kamu nggak fokus di interview, dan di rumah kamu jadi orang yang gampang marah karena capek mikir.
Yang bikin gue tenang: gue inget alasan gue interview. Bukan buat gaya-gayaan, tapi buat keluarga. Buat bisa bayar sekolah, buat bisa ajak anak liburan sekali setahun, buat masa depan yang lebih stabil. Jadi interview itu bagian dari tanggung jawab, bukan pelarian dari rumah.
Informasi selengkapnya bisa dibaca di letofskystudio.
Kalau kamu hari ini lagi di posisi yang sama—anak demam, interview jam sembilan, dan kepala penuh—tarik napas dulu. Bagi tugas, siapin rencana B, dan hadir utuh di ruang interview. Anak kamu butuh orang tua yang tenang, bukan yang selalu ada tapi pikirannya kacau.
Dan satu lagi: setelah interview selesai, langsung telepon rumah. Tanya kabar anak. Kadang hal sesederhana itu yang bikin hari berat jadi terasa lebih ringan.