Malam itu jam sebelas lewat. Anakku baru saja akhirnya tidur setelah drama rewel hampir satu jam. Aku duduk di sofa, buka laptop, dan melihat email dari atasan: ada tawaran posisi baru dengan gaji naik hampir 40 persen. Dua detik kemudian, istriku keluar dari kamar anak sambil berbisik, "Dia tadi manggil-manggil kamu sebelum tidur." Dan boom. Rasanya kayak ada dua tarikan kuat dari arah berlawanan di dalam dada.
Kalau kamu orang tua baru yang masih meraba-raba ritme hidup, mungkin kamu pernah atau bakal ada di posisi ini. Dan tulisan ini bukan mau sok tahu soal pilihanmu. Ini cuma cerita apa yang gue alami, apa yang gue pelajari, dan kenapa akhirnya gue milih seperti sekarang.
Wawancara yang Bikin Keringetan Bukan karena Pertanyaannya
Sebelum sampai ke tawaran itu, ada proses wawancara yang buat gue lumayan deg-degan. Bukan karena pertanyaan teknisnya susah — itu mah biasa. Yang bikin gue keringetan justru pertanyaan klasik: "Kamu siap dengan jam kerja yang lebih panjang? Kadang harus lembur dan siap dihubungi di weekend."
Baca juga: 5 Hal yang Wajib Dicek Sebelum Interview Kerja Saat Lagi di Perantauan
Dulu, sebelum punya anak, jawabannya gampang. "Siap, Pak." Titik. Sekarang? Gue ngerasa kayak lagi diperiksa jujur atau nggak. Karena di kepala gue langsung kepikiran: siapa yang mandiin anak kalau gue lembur? Siapa yang nemenin istri begadang kalau anak demam jam dua pagi?
Gue jawab sejujur mungkin waktu itu. Gue bilang gue punya anak kecil, jadi gue butuh fleksibilitas, tapi gue juga nggak akan lari dari tanggung jawab. Interviewer-nya cuma manggut-manggut. Nggak tahu itu tanda bagus atau cuma sopan. Ternyata beberapa minggu kemudian gue dipanggil lagi untuk tahap akhir.
"Jujur soal prioritas hidup itu bukan kelemahan. Justru itu tanda kamu tahu diri sendiri." — ini yang gue tanam di kepala setelah interview itu.
Dua Minggu yang Bikin Kepala Penuh
Nah, setelah lolos dan dapet tawaran resmi, gue masuk fase paling berat: mikir. Bukan mikir soal uangnya, karena jelas lebih gede. Tapi mikir soal harga yang harus dibayar.
Gue coba hitung-hitungan sederhana di buku catatan. Kalau ambil posisi itu, jam pulang gue mundur rata-rata dua jam. Belum kalau ada deadline. Artinya, dalam seminggu gue kehilangan sekitar sepuluh jam bareng anak. Sepuluh jam itu setara dengan... hampir seluruh waktu bangunnya di hari kerja, karena anak gue tidur jam delapan malam.
Di sisi lain, gaji naik 40 persen itu bukan angka receh. Buat kami yang masih nyicil dan baru mulai nabung buat pendidikan anak, itu berarti napas yang lebih lega. Istri gue juga nggak langsung bilang "ambil" atau "jangan". Dia cuma bilang, "Kamu yang paling tahu kapasitas kamu." Yang justru bikin gue makin mikir, haha.
Yang Gue Pelajari dari Diskusi Sama Istri
Kami akhirnya duduk bareng, beneran tanpa HP, cuma buat ngomongin ini. Dan ada beberapa hal yang akhirnya keluar dari obrolan itu:
- Uang tambahan itu nggak ada artinya kalau gue jadi gampang emosi di rumah karena capek.
- Anak kami cuma sekali kecil. Nggak ada tombol rewind.
- Tapi karier juga bukan hal yang bisa ditunda selamanya tanpa konsekuensi.
- Yang paling penting: kami harus sepakat dulu soal definisi "cukup" buat keluarga kami.
Poin terakhir itu yang paling nendang. Selama ini gue nggak pernah benar-benar mendefinisikan "cukup" itu apa. Gue cuma jalan, kerja, terima gaji, habis, kerja lagi. Padahal tanpa definisi yang jelas, tawaran gaji naik akan selalu terasa "kurang".
Keputusan yang Nggak Populer di Kantor
Gue akhirnya menolak posisi itu. Bukan tanpa drama. Ada rekan yang bilang gue sayang banget kesempatannya. Ada juga yang nyeletuk, "Ah, kamu bakal nyesel." Mungkin iya, mungkin nggak. Tapi yang gue tahu pasti, gue nggak mau ambil keputusan besar cuma karena takut dianggap nggak ambisius.
Yang gue lakukan sebagai gantinya: gue negosiasi hal lain. Gue minta jam kerja yang lebih fleksibel di posisi sekarang, dan alhamdulillah disetujui. Gaji nggak naik 40 persen, tapi naik sedikit. Dan yang paling penting, gue masih bisa jadi orang pertama yang dilihat anak gue waktu dia buka mata pagi.
Jujur? Nggak setiap hari gue yakin dengan pilihan ini. Kadang lihat teman yang kariernya melesat, gue ngerasa ketinggalan. Tapi setiap kali anak gue lari ke pintu sambil teriak "Papa!" waktu gue pulang, rasanya kayak semua hitungan di buku catatan itu jadi masuk akal.
Buat Kamu yang Lagi di Titik yang Sama
Kalau kamu orang tua baru dan lagi dihadapkan pilihan kayak gini — entah itu tawaran promosi, pindah kerja, atau sekadar wawancara yang bikin bingung harus jujur atau nggak soal kondisi keluarga — gue cuma mau bilang: nggak ada jawaban yang benar buat semua orang. Yang ada cuma jawaban yang benar buat keluargamu, di fase hidupmu sekarang.
Tapi ada satu hal yang gue harap kamu lakukan: jangan ambil keputusan besar waktu kamu capek dan emosi. Tidur dulu. Ngobrol sama pasangan. Tulis apa yang sebenarnya kamu takut kehilangan. Kadang jawabannya nggak muncul dari kepala, tapi dari perut yang tenang.
Dan soal wawancara tadi — jujur soal prioritas ternyata nggak bikin gue gagal. Malah bikin gue dipertimbangkan lebih serius, karena mereka tahu gue nggak akan bohong soal kapasitas. Jadi kalau kamu ditanya soal kesiapan kerja dan punya anak kecil di rumah, jawab saja apa adanya. Perusahaan yang sehat bakal menghargai kejujuran itu. Yang nggak menghargai? Ya mungkin memang bukan tempat yang pas buat kamu.
Gue masih belajar jadi bapak sekaligus pekerja sampai sekarang. Nggak selalu mulus, kadang salah hitung, kadang nyesel. Tapi setidaknya setiap keputusan gue ambil dengan sadar, bukan karena ikut arus. Dan buat gue, itu sudah cukup jadi bekal.