Dua tahun lalu gue ada di posisi yang lumayan absurd: lagi backpacking di Chiang Mai, tapi di jam yang sama harus interview kerja untuk posisi yang gue incar banget. Kafe kecil di Nimman Road, wifi lumayan, tapi suara blender dan turis ngobrol kenceng banget. Gue duduk di pojok, pakai headset, dan berdoa semoga interviewer nggak dengar suara apa-apa selain gue.
Hasilnya? Gue keterima. Tapi jujur, bukan karena gue keren atau apa. Gue cuma belajar beberapa hal soal interview kerja yang harus dijalani sambil traveling — entah kamu lagi dinas luar kota, lagi mudik, atau memang sengaja kerja remote dari Bali.
Kalau kamu tipe orang yang sering berpindah tempat tapi tetap ngejar karier, artikel ini buat kamu.
Kenapa Interview Sambil Traveling Itu Beda
Interview di rumah atau kantor itu udah susah. Interview di tempat asing? Levelnya naik. Kamu nggak cuma harus mikirin jawaban, tapi juga mikirin sinyal, background, suara, dan apakah kamar mandi hotel kamu cukup terang buat video call.
Gue pernah interview via Zoom dari lobby hotel di Jakarta. Lampu belakang gue terlalu terang, jadi muka gue kelihatan kayak siluet. Interviewer sempat bilang, "Maaf, saya nggak bisa lihat wajah Anda." Itu momen yang bikin gue pengen ngilang.
Tapi justru dari kejadian-kejadian kayak gitu, gue sadar bahwa interview sambil traveling bukan soal kamu di mana, tapi soal seberapa siap kamu. Perusahaan nggak peduli kamu lagi di Yogyakarta atau Yokohama. Mereka peduli apakah kamu bisa jawab pertanyaan dengan jelas dan meyakinkan.
Persiapan yang Nggak Bisa Ditawar
1. Riset lokasi jauh-jauh hari
Ini yang sering dilupakan. Banyak orang mikir, "Ah, tinggal cari kafe aja nanti." Salah besar. Kafe yang bagus buat nongkrong belum tentu bagus buat interview. Kamu butuh tempat yang:
- Wifinya stabil (bukan cuma kenceng, tapi stabil)
- Relatif sepi di jam interview kamu
- Punya colokan listrik
- Nggak ada musik live atau acara karaoke
Gue selalu cek Google Maps review terbaru, cari kata kunci "quiet" atau "good for work". Kalau perlu, dateng sehari sebelumnya buat cek langsung. Ini bukan lebay — ini investasi buat karier kamu.
2. Bawa backup plan
Wifi mati? HP lowbat? Kafe tiba-tiba penuh? Semua bisa terjadi. Gue selalu bawa dua SIM card dari provider berbeda, power bank besar, dan hotspot pribadi. Kalau memungkinkan, gue juga book coworking space sehari sebagai cadangan.
Percaya deh, rasa panik karena sinyal jelek di tengah interview itu nggak akan bikin kamu jawab pertanyaan "ceritakan kelemahan kamu" dengan lancar.
Teknis yang Sering Bikin Kacau
Ini bagian yang bikin banyak orang gagal padahal jawabannya udah bagus. Masalah teknis. Kamu bisa aja punya pengalaman 10 tahun, tapi kalau audio kamu kayak orang ngomong dari dalam kaleng, interviewer bakal ragu.
Beberapa hal yang gue pelajari dengan susah payah:
- Selalu pakai headset dengan mic. Earbuds biasa nggak cukup. Suara sekitar bakal masuk.
- Cek background. Kamu nggak mau interviewer lihat kasur hotel yang belum dirapikan atau baju kotor di belakang.
- Test kamera dan mic 30 menit sebelum. Rekam diri sendiri, dengar hasilnya. Kalau perlu, minta teman cek lewat panggilan.
- Matikan notifikasi. Ini klasik tapi masih sering kejadian. Notif WhatsApp atau email muncul di tengah interview itu bikin kamu kelihatan nggak profesional.
Interview itu bukan soal kamu sempurna, tapi soal kamu kelihatan siap. Perusahaan maafin jawaban yang kurang tajam, tapi mereka susah maafin kandidat yang nggak siap secara teknis.
Jaga Fokus dan Energi
Ini yang jarang dibahas. Traveling itu capek. Kamu jalan seharian, kurang tidur, makan nggak teratur. Lalu tiba-tiba harus interview jam 9 pagi waktu lokal yang mungkin beda sama waktu tubuh kamu.
Gue pernah interview jam 6 pagi waktu Bangkok karena harus nyesuain jam kantor di New York. Gue bangun jam 4, mandi, dan berusaha keliatan fresh. Tapi otak gue masih setengah tidur. Hasilnya? Jawaban gue berantakan. Gue nggak dapet posisi itu.
Sejak itu, gue selalu atur jadwal interview di jam yang bikin gue paling waras. Kalau bisa, hindari hari pertama tiba di kota baru. Kasih waktu tubuh buat adaptasi. Tidur cukup. Makan dulu sebelum interview, jangan pas perut kosong.
Dan satu lagi: jangan interview sambil jalan-jalan. Kedengeran sepele, tapi gue pernah coba interview audio sambil nunggu kereta di stasiun. Suara pengumuman, orang lewat, dan gue harus teriak-teriak. Nggak banget.
Yang Paling Penting Sebenarnya
Semua tips teknis di atas penting. Tapi ada satu hal yang lebih penting: kamu harus tetap jadi diri sendiri. Interview sambil traveling sering bikin orang jadi kaku karena terlalu fokus ke setting. Padahal interviewer cuma mau ngobrol sama manusia, bukan robot yang duduk di kursi ergonomis.
Kalau ada gangguan kecil — misalnya suara motor lewat atau wifi sempat lag — kamu bisa santai bilang, "Maaf ya, saya lagi di luar kota, jadi mungkin ada suara sedikit." Itu justru bikin kamu kelihatan jujur dan manusiawi. Gue pernah bilang gitu, dan interviewer malah ketawa dan bilang, "Wah, saya juga pernah interview dari bandara."
Jadi buat kamu yang sering berpindah tempat, jangan takut interview sambil traveling. Dunia kerja sekarang makin fleksibel. Yang penting kamu siap, fokus, dan tetap jadi diri sendiri. Sisanya, biar rezeki yang ngatur.
Dan kalau kamu gagal? Nggak apa-apa. Gue juga pernah. Yang penting next time kamu lebih siap. Karena karier itu bukan sprint, tapi perjalanan panjang — sama kayak traveling itu sendiri.